Langsung ke konten utama

Titipan

 Hari ini ada bahagia menghampiri. Memang seharusnya bahagia itu selalu ada. Tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak menciptakan bahagia dalam diri, keluarga, dan lingkungan.

Bahagia dan merasa bahagia sejatinya adalah wujud insan yang selalu bersyukur. Betapa tidak? Kalau membaca dengan mata hati yang dalam bahwa sejak bangun di pagi hari hingga tidur di malam hari kita selalu dapat hadiah.

Wujudnya bisa bermacam-macam. Yang utama dan pertama adalah karunia oksigen yang masih bisa kita hirup secara normal. Kita tidak perlu mengeluarkan dana khusus untuk oksigen . Semua Allah berikan secara gratis. Karena di luar sana terutama di ruang ruang 'rumah untuk sehat' alias rumah sakit atau klinik banyak orang yang diharuskan membeli oksigen sendiri demi kesehatan.

Kembali ke hal bahagia hari ini yang saya pribadi alami. Anugerah yang Allah titipkan pada diri ini sebagai seorang pendidik ternyata Allah titipkan pula pada gadis kecilku. 

Dalam kondisi pembelajaran daring, dia sudah menunjukkan tanggung jawab dalam kemandirian yang seharusnya. Menyelesaikan tugas ketrampilan membaca melalui recording dilakukan dengan sangat baik. Pronunciation dan stressing kalimatnya wah... sungguh hebat gurunya yang mampu menerapkan konsistensi dalam mengajar dan tetap memberikan tugas ketrampilan meski dalam kondisi non tatap muka..

Terima kasih banyak atas bimbingan dan motivasi yang telah diberikan oleh Bu guru. Namun, semua itu hanyalah pinjaman atau titipan dari sang pemilik. Dengan kasih sayangnya yang tak berbatas, kepandaian, kecakapan, keindahan dibagi, dititipkan, dan disematkan pada hamba yang dikehendakiNYA. Sehingga sang hamba nampak elok di mata sesama. 

Sang hamba tersenyum penuh syukur. Sang Pemberi pun tersenyum bahagia. "Akan kutambahkan lagi untukmu jika engkau pandai bersyukur. Jika tidak, maka sesungguhnya azabku teramat pedih."  Pesan dalam kitab suci Al-Qur'an.

Kata orang bijak bahagialah secukupnya, bersedihlah seadanya, bersyukurlah sebanyak banyaknya. Semoga kita semua jadi hamba yang pandai bersyukur.

Paparan ini terilhami dari kejadian tampak mata dalam hidup di pelupuk mata. Ini semata nasihat diri dan bukan untuk berbangga diri. Semoga berkenan 🙏🙏🙏

Wasalam

Kota Palu,. menjelang waktu Ashar

 3 Pebruari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...