Langsung ke konten utama

ANAK PERAHU (21)

 

 

 "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita," teriak Fari panik sambil tertawa kecil. "Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu.

Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik.

Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama.

Kesempatan itu tidak disia - siakan oleh anak - anak ini. Atas ajakan Reza, mereka bertiga mencoba menaiki perahu ke arah sungai timur lalu balik lagi. Mereka mendayung secara bergantian. Kalau masalah naik perahu tanpa macam - macam, mungkin tidak masalah. Yang meresahkan para orang  tua  adalah kelakuan mereka di atas perahu. Ada yang berdiri, berteriak sambil joged. Tiga bocah di dalam sungai dan tidak semua pandai berenang. Yang pandai berenang hanya Reza. Sedangkan Rival dan Fari tidak bisa berenang sama sekali. Wow apa yang akan terjadi jika perahu itu sampai terbalik?

Mana pula, di  sungai itu ada bagian - bagian tertentu yang alirannya deras dan dalam. Kalau tidak mahir, bisa bahaya. Kehadiran buaya pada saat yang tidak bisa diperkirakan turut menambah kecemasan orang tua. Dasar anak - anak ini!  Mereka menjadikan perahu sebagai ajang bermain seperti di darat. Menyeberang  berulang kali tanpa lelah di sore itu. Semoga ayah Reza tidak melihat kelakuan mereka tadi.

Sekitar jam lima sore mereka beristirahat di tepi sungai sambil makan jagung bakar yang dijual di warung tante Patoma. Jagung belum habis mereka makan, ketika ayah Reza tiba - tiba datang. "Kamu main - main perahu memang tadi ini, kan?"  Ayah Reza menginterogasi mereka tanpa kedip. Rival dan Fari tertunduk, tidak berani menatap mata ayah Reza. "Ini ketahuan bohongnya, ditanya semua hanya diam"  Ayah Reza menatap mereka satu persatu.

"Naik - naik perahu tadi anak - anak ini," Tante Patoma datang  membawa jagung bakar untuk  mereka. "Astaga! tante Patoma buka kartu lagi. Aduh sudah ketahuan kalau kita berbohong ini,"  pikir Reza dan kedua temannya. Namun, mereka bertiga hanya diam sambil tersenyum kecut.

Tidak lama kemudian, Reza diajak ayahnya pulang karena hari sudah menjelang Magrib. "Ayo Reza pulang kita, sudah sore sekali ini," ajak ayahnya pada Reza yang masih menghabiskan gigitan jagung bakarnya. "Ini Rival dan Fari juga, sebentar om lapor sama papamu nanti kalau kamu main - main perahu di sungai. Kalau kamu jatuh dan hanyut bagaimana? Baru kamu mungkin tidak tahu berenang. Aduh bahaya itu eh!" Fari dan Rival semakin tertunduk mendengar omelan ayah Reza sore itu.

Suara mengaji dari mesjd di seberang sungai menyuruh mereka segera pulang karena sebentar lagi waktu Magrib akan tiba.

Keterangan:

Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita (Hati - hati Reza nanti kita terbalik)

nadoyo (nakal;nekat;asal)

ranga (Kasihan - kata sandang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...