Langsung ke konten utama

TERSIBAK (2)

 


 Alangkah terkejutnya mereka ketika helai taplak meja yang terjuntai hampir menyentuh lantai itu ditarik oleh sang pemilik warung tante Patoma. Seorang anak lagi tertidur pulas di bangku yang sengaja disandarkan di belakang lemari. Tante Sadiyah merapat ingin memastikan. Iya ternyata benar dugaannya semalam bahwa keberadaan Reza  memang tidak jauh dari situ.

Nampak Reza tertidur pulas sambil meringkuk kedinginan dengan suara dengkuran yang tidak terlalu keras. Ayah Rival, Fari serta saudara yang ada di situ segera merapat melihat sosok yang lagi terbuai dalam alam mimpi pagi. "Astaga ini dan Reza, sudah satu malam kita bacari ternyata dia hanya enak - anak tidur," kata Fari sambil ikut  melongok ke belakang lemari itu.

"Reza bangun, bangun Reza" Nenek Sadiyah menggoncang goncang badan Reza yang sedikit bertulang dan agak gelap itu. "Kenapa kamu tidur di sini nak. Mari kita pulang sudah," lanjut nenek Sadiyah. Reza pun membuka mata, berusaha bangun dan duduk. Nampak dia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mengapa pagi ini dia berada di warung tante Patoma dan telah dikelilingi oleh mereka?  Reza berusaha merekam kembali kronologis kejadian yang dialaminya semalam. Belum sempat berkata apa - apa, Ayah Rival langsung menjulurkan tangannya pada Reza dan mengajaknya segera bangkit dan keluar dari warung.

Mereka semua mengikuti Ayah Rival dan Reza yang sudah berjalan duluan. Antara kesal dan lucu mereka berceloteh "Kitorang kira Reza sudah lenyap tadi, eh ternyata bajaga warung tante Patoma dia, ha ha ha." Suasana pagi itu ditemani dengan sepoi angin sejuk yang bertiup tanpa penghalang di area sungai yang telah menjadi saksi rangkaian aksi evakuasi bocah hilang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...