Langsung ke konten utama

SOSOK BAYANGAN (1)

 

 

 

 Di tengah malam seperti ini, sungai menghembuskan napas dingin. Angin malam bertiup perlahan membuat Fari yang tanpa jaket sedikit merinding. Di kejauhan lolongan anjing malam mengalun pilu. Menurut cerita orang tua, kalau ada lolongan anjing seperti menangis tandanya melihat sesuatu. Entahlah, kasat mata manusia biasa mungkin tidak bisa menjangkaunya. Fari bermain dengan pikirannya sambil melipat kedua tangannya erat - erat ke dada. Menghalau rasa dingin dan semburat kengerian, teringat lagi cerita horor di radio setiapJum'at malam.

Sejenak  rombongan 'pencari anak hilang' berhenti. Ayah Rival menyebarkan cahaya senter ke alang - alang yang tumbuh liar ke jalan setapak menuju sungai. "Coba komiu (kamu; panggilan halus dalam bahasa Kaili) panggil Reza Nek," kata ayah Rival. Nenek Sadiyah pun mencoba memanggil Reza dengan suara khasnya yang sering menghalau anak - anak. Sekali, dua, dan tiga kali tidak ada sahutan atau pun tanda  kalau  Reza ada di situ. 

Mereka terus berjalan sambil mata dan telinga awas. Siapa tahu ada petunjuk akan hilangnya Reza. Fari terus mengingat - ingat akan percakapannya dengan Reza siang tadi.  Adakah Reza menyinggung soal sungai dan segalanya? Memang di antara nereka tiga sekawan, Reza tergolong yang paling berani dengan rasa ingin tahu yang besar pula. Selain itu Reza juga terlihat banyak mengetahui seluk beluk sungai Palu dan penghuninya dari para orang tua. Di kampung ini memang ada mitos yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya akan keberadaan sungai Palu. Para generasi muda bahkan anak - anak pun sudah diturunkan pengetahuan akan hal ini. Jadi wajarlah bila pemikiran Fari mengarah kesitu. Mungkinkan Reza sedang testimoni di tengah malam?

Tiba - tiba nenek Sadiyah berucap pelan " hey, kamu semua coba lihat itu di atas batu ada yang bayangan warna hitam" Nenek Sadiyah menunjuk ke arah tepi sungai bagian selatan, sekitar lima puluh langkah  dari tempat merekai berdiri. Seketika mereka menajamkan penglihatan masing - masing di tengah kegelapan malam dan deru air sungai yang menabrak bebatuan. Perlahan mereka mendekat sambil mengarahkan cahaya senter di jalan setapak agar tidak terkait ujung semak yang menjuntai ke kaki.

Apakah itu Reza? Benarkah apa yang mereka lihat? Ada  bayangan yang tidak bergerak - gerak nampak dalam keremangan  cahaya senter . Kondisi gelap membuat mereka belum bisa memastikan apa itu sesungguhnya.

Bersambung

salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...