Langsung ke konten utama

MENGEJAR LAYANG-LAYANG (2)

 

 

Mereka bertiga berlari menuju jalan ke arah bungi dimana layangan putus tadi berada. "He motor Reza" Teriak Fary menginginkan Reza yang berlari dan menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. " Maaf om maaf," kata Reza pada pengendara motor yang menatapnya tajam. "Kalau kamu ditabrak tadi, siapa yang salah"  Ucap bapak itu sambil melambatkan jalan motornya.

"Itu Reza" Teriak Rival sambil menunjuk pada sebuah layang layang yang tersangkut di ranting pohon kayu Jawa. " Ambil kayu itu bawa kemari" Perintah Reza pada Rival yang matanya tetap awas pada layangan putus itu.

"Ini Fary kau jolok saja layang layang itu apa kau tinggi, pasti sampe kalau kau yang basoka(baca: jolok), " kata Rival pada Fary sambil menyerahkan sebatang penjolok dari ranting kayu. Fary pun berusaha menjulurkan kayu panjang ke samping pohon agar mudah baginya menjatuhkan layangan itu. "Korek benang sisa itu biar talepas Fary...namali Iko (lambat kau)"  Reza  berteriak dengan tidak sabar. "Bantu tarik itu Rival, jangan hanya menonton"  Reza menyuruh Rival dengan panik. "Ok...ok bos sip"  Rival mengancungkan jempolnya.

Tarik kiri kanan selama beberapa saat. Akhirnya evakuasi layangan putus berhasil. Weleh... weleh sebuah layangan putus yang harganya tak seberapa ternyata menjadi tema perjuangan tiga sahabat di sore itu.

Mereka bertiga kemudian berjalan dengan celotehan yang tidak pernah putus ke arah lapangan bola di tepi jalan raya di tengah kampung Nunu. Sebenarnya berapa sih nilai atau harga sebuah layangan putus bila dibandingkan dengan upaya keras untuk mendapatkannya. Tak jarang anak-anak ini harus berebut dengan anak-anak yang lain yang punya misi yang sama yakni mendapatkan layangan putus. Entahlah, ada nilai seni yang seperti apa dalam mengejar layangan putus. Yang jelas bila musim layang-layang tiba, maka tim pemburu layangan 'embang' ini juga beraksi.

"Badapat layang layang dimana kamu?" tanya Anto dari arah lapangan futsal. Memang posisi lapangan bola dan lapangan futsal bersebelahan dan pas di depan rumah Anto."Di jalan ke bungi kitorang dapat"  Sahut mereka bertiga. "Apa tadi kitorang juga ba kejar layang layang, tapi hilang. Mungkin sudah itu tadi,"   sahut Anto sedikit kecewa. Tiga sahabat hanya tersenyum tipis mendengar kalimat nya Anto. "Kitorang (baca: kami) yang dapat bagaimana sudah"  Bisik Reza pada Fary dan Rival. "Beeh...biar saja,"  sahut mereka berdua hampir bersamaan diiringi senyum kemenangan.


Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...