Langsung ke konten utama

MENGEJAR LAYANG - LAYANG (1)

 

 


Selama perjalanan pulang dari bungi  (baca:kebun;bahasa Kaili), ketiga bocah ini selalu bersenda gurau. Ada ada saja yang mereka jadikan bahan untuk tertawa. Mulai dari diri mereka sendiri yang entah bagaimana modelnya menjinjing sepasang kelapa yang lumayan berat bagi anak seusia mereka. Nenek Sadiyah dan om Mistar pun tak luput dari sorotan tiga spionase kampung ini.

Ketika mendekati jalan aspal menuju pemukiman mendadak Reza berteriak lepas "he layang - layang putus" sambil menunjuk ke atas. Semua terkejut dan berhenti mendengar teriakan Reza yang cukup keras. Spontan nenek Sadiyah balas berteriak tak kalak kerasnya "weh, masalisamo nadea gau". Artinya ayo cepat tidak usah macam - macam. Fary dan Rival tersenyum melihat nenek Sadiyah memarahi Reza.

“Kita taruh dulu ini kelapa bari kemari lagi kita nha"? Reza berbicara pelan pada kedua temannya yang juga sudah setengah mati membawa kelapa. "Iyo, sebantar jangan baribut, didengar lagi nanti kita" Jawab Fary hati - hati. "Ayo kemon bro" Reza memberi semangat sambil berjalan cepat di depan. Fary dan Rival hanya mengikuti dari belakang. Ingin rasanya cepat sampai di rumah Mina pikir mereka tentunya.

Tidak berselang lama iring iringan bungi telah sampai dihalaman depan rumah Mina. Beliau adalah kakak sepupu Reza dan juga ponakan kandung nenek Sadiyah. "Mina ditaruh dimana ini kelapa"? Teriak Reza dari depan pintu dapur. "Taruh situ saja tidak apa - apa" Sahut Mina dari dapur. Tercium aroma pisang goreng. "Sini kamu orang Reza, Fary, dan Rival" Mina memanggil tiga bocah itu untuk masuk ke dapur.

Tanpa menunggu panggilan kedua, ketiga sahabat ini sudah berada di dapur dan langsung mencolek pisang goreng yang masih panas itu. "Duduk saja ambil kursi itu" perintah Mina sambil menyodorkan sepiring pisang goreng panas. Ehm... narasa mpu (baca: enak sekali)

"Mbana ka yaku Mina"?  (baca:mana untuk saya?) Nenek Sadiyah merasa cemburu dengan ketiga bocah yang sudah larut dalam dansa lidah karena pisang goreng masih panas.. "Hii ranga Sadiyah anu ka komiu (baca: ini bagiamu ada) Jawab Mina kalem dan langsung memberikan sepiring kecil pisang goreng untuk Bibinya.

"Habis ini kamu tiga mandi semua apa navau soa/bau badan" Tandas nenek Sadiyah pada tiga  sahabat yang lagi asyik dengan pisang goreng dan teh hangat hidangan tante Mina. Mereka bertiga saling bertatapan penuh arti. Apa gerangan yang ada di pikiran mereka sehingga mereka tidak menjawab perintah nenek Sadiyah.

Setelah gelas teh dan piring pisang goreng bersih tak berbekas, ketiga bocah itu berdiridan langsung keluar. Mereka berjalan beriringan. Terlihat mereka ingin segera berlalu dari depan nenek Sadiyah.

"Mari cepat sudah ba kejar layang - layang tadi kita" Reza memberi isyarat kepada dua temannya ini. Tanpa menunggu jawaban lagi, segera mereka kabur tanpa pamit lagi. Dasar anak - anak tengil.

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...