Setelah Reza sahabatnya memutuskan untuk pulang karena rindu yang tak tertahankan lagi, Fari berusaha tegar dan menguatkan niat awalnya untuk datang ke Karawang.Terbayang wajah ibunya. Terngiang kembali kata kata mereka, para saudara yang ada di kampung saat ia mau pamit berangkat.
"Rapaka pane rara Fari majadi tona, kasia ranga totuamu," kata tante Tini saudara sepupu ibunya (Artinya Fari harus semangat untuk mencapai keberhasilan di kampung orang, kasihan orang tua). Tante Emi yang terkenal dengan wajah sangarnya menyambung, "Ane ri ngata ntona nemo aga potinggulimo ratora. Dopa mokuya manjilimo" (Artinya kalau di kampung orang jangan selalu ingat pulang kampung. Belum apa - apa sudah mau pulang).
Semua nasihat itu membuat fari seolah merasa sangat tertekan. Sebenarnya rindu di hatinya juga menggunung. Namun, di sisi lain hatinya ada perasaan takut kalau pulang tanpa hasil. Fari sudah membayangkan wajah - wajah penuh cemohan dari para saudara yang memang terkenal suka menyerang pertahanan mental seseorang demi sebuah kebaikan. Pertentangan batin yang teramat sangat memenuhi pikiran Fari saat itu.
Untuk mengobati rasa rindunya biarlah ia bermain dengan bayang - bayang indah saat di kampungnya yang terletak di pinggiran sungai Palu itu .Kampung unik di wilayah kota. Pohon Beringin menjadi ikonya. Pada zaman dahulu di tepi bukit ada sebuah pohon raksasa yang hidup di kampung ini. Masyarakat setempat menyebut itu Nunu, yang artinya adalah pohon Beringin.
Fari terus dan terus menggali memori masa kecil yang penuh kenangan itu. Satu persatu muncul dalam benaknya malam itu. Biarlah kuobati rasa rindu ini melalui Sepanjang Jalan kenangan.
Komentar
Posting Komentar