Langsung ke konten utama

LAMUNAN INDAH (30)

Setelah Reza sahabatnya memutuskan untuk pulang karena rindu yang tak tertahankan lagi, Fari berusaha tegar dan menguatkan niat awalnya untuk datang ke Karawang.Terbayang wajah ibunya. Terngiang kembali kata kata mereka, para  saudara yang ada di kampung saat ia mau pamit berangkat.

"Rapaka pane rara Fari majadi tona, kasia ranga totuamu," kata tante Tini saudara sepupu ibunya (Artinya Fari harus semangat untuk mencapai keberhasilan di kampung orang, kasihan orang tua). Tante Emi yang terkenal dengan wajah sangarnya menyambung, "Ane ri ngata ntona nemo aga potinggulimo ratora. Dopa mokuya manjilimo" (Artinya kalau di kampung orang jangan selalu ingat pulang kampung. Belum apa - apa sudah mau pulang).

Semua nasihat itu membuat fari seolah merasa sangat tertekan. Sebenarnya rindu di hatinya juga menggunung. Namun, di sisi lain hatinya ada perasaan takut kalau pulang tanpa hasil. Fari sudah membayangkan wajah - wajah penuh cemohan dari para saudara yang memang terkenal suka  menyerang pertahanan mental  seseorang demi sebuah kebaikan. Pertentangan batin yang teramat sangat memenuhi pikiran Fari saat itu. 

Untuk mengobati rasa rindunya biarlah ia bermain dengan bayang - bayang indah saat di kampungnya yang terletak di pinggiran sungai Palu itu .Kampung unik di wilayah kota. Pohon Beringin menjadi ikonya. Pada zaman dahulu di tepi bukit ada sebuah pohon raksasa yang hidup di kampung ini. Masyarakat setempat menyebut itu Nunu, yang artinya adalah pohon Beringin.

Fari terus dan terus menggali memori masa kecil yang penuh kenangan itu. Satu persatu muncul dalam benaknya malam itu. Biarlah kuobati rasa rindu ini melalui Sepanjang Jalan kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...