Langsung ke konten utama

KUMPUL BOCAH


 

 


 Usai shalat Isya berjamaah di masjid,  ketiga  bocah sekawan  kembali ke rumah masing - masing. Mereka akan pamit pada 'orang rumah' untuk pergi ke rumah Rival seperti janji tadi sore pada bunda Mut. Tidak menunggu lama rumah bunda Mut sudah terlihat ramai dengan teman - teman Rival. Selain Reza dan Fari, di sana juga hadir teman yang lain terutama tetangga di  sekitar rumah Rival.

Anak anak ada yang duduk menonton televisi dan yang lainnya sibuk bercanda di teras rumah Rival yang cukup besar menjadi tempat berkumpulnya anak -anak. Mereka menunggu bunda Mut dan kak Ika menyiapkan hidangan mie kuah dan singkong rebus hasil kebun. Bunda Mut memang seorang yang senang berkumpul dengan anak -anak. Kumpul bukan sembarang kumpul, akan tetapi selalu menyediakan hidangan ringan atau santapan yang bisa disuguhkan. 

Beberapa saat kemudian hidangan mie kuah panas dan singkong rebus mendarat di meja besar di teras. Wow nampak asap masih mengepul dari makanan itu. Air liur meleleh mencium aroma bawang goreng yang bertaburan di permukaan mangkuk mie. "Ayo anak - anak ambil sendiri, jangan rebutan ya?" kata Bunda Mut pada mereka. Antrian di meja berlangsung sedikit riuh dengan tawa yang tertahan akibat saling menyikut. Maklumlah!  Anak- anak ada  - ada saja.

Suasana santap malam itu ceria dan bahagia sekali. Ada yang menambah dan ada pula yang menyerah karena sudah mengambil "sepenuh mangkuk" di awal. "Itu ubi, makan nak jangan malu - malu!"  Bunda Mut melongok dari dapur menyuruh anak- anak untuk "nambah". Tidak sampai satu jam eksekusi makanan "over". Narasa  mpu berarti, istilah orang Kaili. Maknyuss istilah kuliner.

Setelah itu anak -anak membantu bunda Mut menyimpan meja dan piring bekas makan. Masing - masing bawa piring ke sumur dan langsung cuci agar tidak menumpuk. Itulah sebuah kebiasaan anak - anak kampung yang selalu diajarkan. Kalau dijamu makan di rumah orang, jangan hanya diam setelah makan. Bantu apa yang bisa dibantu. Demikian penanaman sikap gotong royong pada diri anak -anak.

Dalam kegiatan sehari - hari di rumah pun, kebiasaan ini selalu berusaha ditegakkan. Kalau besok - besok kamu tinggal di rumah orang nak jadinya sudah terbiasa melakukan apa - apa yang baik tanpa menunggu perintah.  Itulah kalimat klise orang tua yang menjadi mantra bekal anak - anak orang Kaili. Kalau kita tidak bantu orang, orang juga sama tidak mau bantu kita kalau kita butuh. Nasihat ini begitu melekat dan selalu digaungkan setiap saat sejak kecil.

Dalam situasi kampung bersyukurlah penanaman kebiasaan mulia seperti ini tidak pernah luput meski orang tua sebagian besar  tidak tamat sekolah. Kalau pun sekolah, paling tinggi setara SMP atau SMA. Setelah beristirahat sejenak, menjelang jam sepuluh malam anak - anak pamit pulang termasuk Reza dan Fary. Beruntung ini masih situasi liburan kenaikan kelas. Jadi memang mereka merasa agak bebas untuk tidur agak lambat dari biasanya.

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...