Langsung ke konten utama

KE BUNGI/KEBUN

 


Hari ini hari minggu. Enaknya kemana dan main apa ya hari ini? Pikir Fary di suatu pagi. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 09.30 waktu Indonesia bagian tengah. Matahari bersinar terik meski masih pagi. Sudah mandi, sudah sarapan. Terus apa lagi? Suara hati Fary berkata..

 "Mak saya ke rumahnya Rival dulu" pamit Fary pada ibunya yang lagi mencuci piring di dapur. "Iya tapi jangan pergi mandi di kuala" Sahut ibunya Fary sambil terus menmbilas piring yang bertumpuk di sumur. Tanpa menunggu komando si Fary langsung menghilang di balik pagar di samping rumah.

Sambil berlari kecil Fary menuju rumah Rival yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Nampak Reza dan Rival tengah duduk di teras  depan rumah Rival. Rupanya mereka berdua sudah menunggu kedatangan sahabat kentalnya yang berambut ikal ini. "Hey, sudah lama kamu batunggu"? Teriak Fary sambil berjalan menghampiri kedua temannya itu. "Belum juga" Reza menjawab serempak dengan Rival.

"Bagaimana kalau kita ke 'bungi' lihat orang bapanjat kelapa. Biasanya hari minggu begini banyak orang panjat kelapa disana" Rival menawarkan rencana. "Terserah, mana - mana saya. Kau Fary bagaimana"? Reza bertanya pada Fary yang lagi duduk bersandar di kursi. "Saya baikut kamu saja bro" Jawab Fary santai. Tanpa berpikir panjang tiga sahabat ini langsung bergerak meninggalkan teras rumah Rival setelah pamit dengan ibunya.

Dasar anak - anak, di tengah jalan pun masih saling kejar dan dorong dorongan satu sama lainnya. Sekitar sepuluh menit sampailah mereka di area kebun di pinggir kampung Beringin alias "Nunu". Kebun itu adalah milik neneknya Reza. Nenek Sadiyah  panggilannya. Selain pohon kelapa, di kebun nenek Sadiyah juga banyak hasil kebun yang lain misalnya pisang, kangkung, terong, rica, tomat, dan jagung.

"Kemari kamu tiga" Teriak Nenek Sadiyah dengan suara lantang. "Ambil kelapa itu bawa ke pinggir" Ketiga bocah ini langsung tertawa dan melaksanakan perintah nenek Sadiyah tanpa banyak bertanya lagi. Baru datang sudah disuruh. Fary berkata dalam hati. Tapi tak apalah. Biasa rejeki anak sholeh.

 "Kamu suka kelapa muda" Teriak  sang nenek lagi. Serempak mereka menjawab "iye...suka sekali". Nenek Sadiyah menyeret beberapa kelapa muda yang baru saja dijatuhkan oleh om Mistar dari pucuk pohon kelapa. "Ambe parang Reza", Rival menyuruh Reza mengambil parang yang  ada di samping pohon kelapa.

Dengan cekatan ketiga anak ini membelah kelapa muda yang begitu segar di tengah suhu udara yang semakin terik meski belum jam 12 siang. Beruntunglah di kebun yang tidak jauh dari tepi sungai itu banyak pohon yang menaungi. Tidak memakan waktu setengah jam tiga kelapa muda beserta airnya hampir bersih disapu  bersih oleh bocah tengil yang tidak kenal capek ini.

"Hayi, habis kami makan kelapa muda ini nek " Rival berkata pada nenek Sadiyah yang sedang  membantu om Mistar mengumpulkan kelapa yang jatuh. "Tidak apa, makan saja. Habis ini kamu bantu bawa pulang ke rumah Mina nanti ini kelapa. Satu orang bawa dua kelapa nanti" Nenek Sadiyah menjelaskan isi perintahnya pada tiga bocah yang hanya tertawa lepas.

Setelah membersihkan bekas batok kelapa yang mereka makan, ketiga anak ini lanjut duduk di atas rumput  sambil bersendawa atau "notoga" (bahasa Kaili). Nampak mereka bertiga puas dan kenyang dengan sajian nenek Sadiyah yang begitu nikmat di siang itu. "Alhamdulillah, rejeki anak sholeh" Fary berucap sambil mengelus perutnya yang sudah penuh terisi air dan daging kelapa muda segar.

Beberapa saat kemudian nenek Sadiyah sudah siap dengan bawaan berupa kelapa dan sayuran hasil kebun yang baru saja dipetik. "Mari sudah anak - anak kamu bawa ini kelapa"  Katanya sambil menunjuk tiga pasang kelapa yang sudah diikat di bagian kulitnya agar mudah dijinjing pulang ke rumah. "Iye nenek nanti kitorang bawa" Jawab tiga bocah sahabat itu.

Mereka jalan berbarengan meninggalkan area kebun alias bungi di minggu siang yang terik namun tetap menyenangkan.

Bersambung.

Salam Literasi:

Astuti, S.Pd,M.Pd

Guru SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...