Dalam kehidupan sehari-hari terdapat beragam kejadian atau peristiwa. Terjadinya pasti ada penyebab atau faktor pemicu. Kondisi yang ada sering tidak sesuai harapan. Diri pribadi biasanya tidak menyadari akan hal itu.. Namun dari sisi lain terdapat banyak mata bening yang bisa jadi cermin bagi pribadi orang lain.
Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang berpegang pada koridor atau norma yang disepakati bersama sering memicu pertentangan. Konflik dan perbedaan pendapat kerap terjadi di berbagai lingkungan, misalnya keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat sekitar. Semua pandai menjadi pemantau bagi yang lain. Kita memang kurang cermat menilai diri sendiri. Kebanyakan seperti itu. Sehingga muncul sebuah pepatah "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak." Amboi indahnya kalimat itu. Sebuah sindiran tajam.
Kita sangat sibuk membahas urusan dan perkara orang di luar diri. Kita pusing membahasnya sampai berbusa-busa. Mungkinkah kita hanya membahas diri kita sendiri sesungguhnya? Bisa saja kekurangan yang ada pada diri orang lain sejatinya adalah kekurangan diri kita sendiri? Banyak dari kita yang belum terbuka pemahamannya akan hal ini. Mungkin juga diri ini.
Jika seseorang dalam konteks sebagai manusia biasa bisa salah, maka bukan sesuatu yang mustahil kita pun bisa salah seperti dia dalam ruang dan waktu yang berbeda. Pada hakikatnya kita adalah sama dan satu. Ikatan sebagai manusia yang Allah sudah bekali dengan segala kelebihan juga kekurangan. Keduanya modal utama dalam hidup.
Kekurangan membuat diri akan tunduk, merendah karena tidak sanggup, sehingga selalu mersasa membutuhkan orang lain. Sebaliknya kelebihan akan membuat diri kuat dan bernilai. Lebih dari itu kelebihan membuat seseorang mampu menunjukan jati diri dalam kehidupan, mampu menebar manfaat bagi orang lain.
Dengan demikian keberadannya akan melengkapi dan menyeimbangkan kehidupan kita. Tetaplah jaga keseimbangan seperti yang diamanatkan dalam surah Ar-Rahman ayat 8 "Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu." Hidup berdampingan dalam keseimbangan menjadikan kita selalu merasa bagaimana jika orang lain itu seandainya menjadi diri kita dan begitu pula sebaliknya.
Komentar
Posting Komentar