Langsung ke konten utama

Diriku Dirimu Satu

 Dalam kehidupan sehari-hari terdapat beragam kejadian atau peristiwa. Terjadinya pasti ada penyebab atau faktor pemicu. Kondisi yang ada sering tidak sesuai harapan. Diri pribadi biasanya tidak  menyadari akan hal itu.. Namun dari sisi lain terdapat banyak mata bening yang bisa jadi cermin bagi pribadi orang lain.

Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang berpegang pada koridor atau norma yang disepakati bersama sering memicu pertentangan. Konflik dan perbedaan pendapat kerap terjadi di berbagai lingkungan, misalnya  keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat sekitar. Semua pandai menjadi pemantau bagi yang lain. Kita memang kurang cermat menilai diri  sendiri. Kebanyakan seperti itu. Sehingga muncul sebuah pepatah "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak." Amboi indahnya kalimat itu. Sebuah sindiran tajam.

Kita sangat sibuk membahas urusan dan perkara orang di luar diri. Kita pusing membahasnya sampai berbusa-busa. Mungkinkah  kita hanya membahas diri kita sendiri sesungguhnya? Bisa saja kekurangan yang ada pada diri orang lain sejatinya adalah kekurangan diri kita sendiri? Banyak dari kita yang belum terbuka pemahamannya akan hal ini. Mungkin juga diri ini.

Jika seseorang dalam konteks sebagai manusia biasa bisa salah, maka bukan sesuatu yang mustahil kita pun bisa salah seperti dia dalam ruang dan waktu yang berbeda. Pada hakikatnya kita adalah sama dan satu. Ikatan sebagai manusia  yang Allah sudah bekali dengan segala kelebihan juga kekurangan. Keduanya modal utama dalam hidup. 

Kekurangan  membuat diri akan tunduk, merendah karena tidak sanggup, sehingga selalu mersasa membutuhkan orang lain. Sebaliknya kelebihan akan membuat diri kuat dan bernilai. Lebih dari itu kelebihan membuat seseorang mampu menunjukan jati diri dalam kehidupan, mampu menebar manfaat bagi orang lain.

Dengan demikian keberadannya akan melengkapi dan menyeimbangkan kehidupan kita. Tetaplah jaga keseimbangan seperti yang diamanatkan dalam surah Ar-Rahman ayat 8 "Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu."  Hidup berdampingan dalam keseimbangan menjadikan kita selalu merasa bagaimana  jika orang lain itu seandainya menjadi diri kita dan begitu pula sebaliknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...