Langsung ke konten utama

SOSOK BAYANGAN (2)

 

 

Tim pencari keberadaan Reza terus bergerak menghampiri bayangan yang dimaksud. Satu, dua, tiga hap! Mereka memastikan obyek yang nampak berwarna hitam dan sedang duduk. "Reza, iko mo?" (Reza, kamu itu?) Nenek Sadiyah merapat diikuti oleh ayah Rival dan beberapa yang lain. Semakin dekat semakin jelas. Disentuh. Ternyata itu adalah karung berisi sesuatu yang disandar di pinggir sungai dekat batu yang biasanya dipakai duduk.

"Astaga!"  ucap Fari sedikit kecewa. Ini makanan kuda papa Syawal, biasa memang ditaruh di sini. Yang lain pun ikut loyo dengan drama pencarian yang penuh harap tadi. Rupanya Reza tidak ada. Sambil memutar akal mereka istirahat dulu di bangku - bangku milik tante Patoma yang biasa jualan kopi di tepi sungai siang hingga sore hari. "Berimbamo hii, ledo ria Reza nikava nabobayamo," kata nenek Sadiyah dalam bahasa Kaili. Artinya "Bagaimana ini, Reza tidak ditemukan sementara sudah menjelang Subuh." Memang saat itu waktu menunjukan hampir jam tiga dini hari.

Warung kopi yang berisi bangku dan meja bagian depannya terbuka dan hanya ditutup dengan selembar tripleks pada pintunya. Dalam suasana bingung ayah Rival mencoba berjalan kesana kemari sambil tetap menyulut rokok. Nenek Sadiyah pun memulai mantra agar Reza jangan disembunyi. Mungkin saja Reza juga memang tidak ada di sini. Yah, namanya saja orang tua, berbagai upaya dilakukan meski terlihat agak mustahil menurut pemikiran anak modern.

Fari terkantuk - kantuk karena dingin dan hembusan angin malam. Dia bersandar di dinding warung tidak jauh dari nenek Sadiyah dan beberapa yang lain yang turut menemani saat itu. Fari tidak kuasa lagi menahan rasa kantuk yang menyerangnya sedari tadi ketika dia mendengar ada suara dengkur di sampingnya. Spontan kaget dan berdiri, bergeser sambil berkata pelan "Ada suara menggerok di situ" Nenek Sadiyah tersentak "Dimana orang menggerok," tanyanya. "Di situ,:  Fari menunjuk ke dalam warung.

Ayah Rival langsung sigap dan menyorot senter ke arah depan warung sambil merapat. Tripleks penutup pintu warung digeser perlahan dan mencoba masuk. Nenek Sadiyah, Fari, Emi, dan Tina mengikuti dari belakang sambil memasang telinga dengan baik. Dimana suara dengkuran yang didengar Fari tadi. Meja digeser, cahaya senter diarahkan. Sepi....

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...