Langsung ke konten utama

NASKUN TENGAH MALAM (32)

Kampungku idolaku. Surganya kuliner. Semua ada di sana. Mulai jajan pasar, sayur, lauk kesukaanku semua ada di sana. Inilah yang menjadi sasaran utama para perantau bila pulang kampung. Istilahnya cuci leher. Daerah lembah dengan iklim yang tidak menentu, kadang kemarau panjang dan terkadang pula hujan tiba tiba turun dalam cuaca yang panas. Dengan kondisi seperti itu daerah ini memang sepintas tidak subur. Namun, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Maha Besar Allah dengan berbagai ciptaanNYA.

Di daerah panas yang memang menjadi perlintasan garis katulistiwa ini ternyata banyak menyimpan hasil bumi berupa tanaman khas yang masih alami dan tidak sama dengan yang ada di daerah lain. Hasil kebun yang dipasarkan tidak ada yang karbitan. Semua masih asli, masak atau tua dari pohonnya baru dipetik. Sebagai contoh adalah tanaman pisang, baik itu pisang buah (pisang ambon tolare/pisang ambon gunung yang berwarna kuning pekat)  maupun pisang untuk olahan (pisang goreng, pisang rebus, lapis pisang, sangkara wae/nagasari, palu butung dll). Semua masih asli dan mudah didapatkan di pasar tradisional terutama pada hari - hari pasar yakni hari Senin dan Jum'at.

Kalau untuk kuliner, semuanya diolah oleh penduduk asli yang memang sangat memahami seluk beluk meracik dan memasak, warisan turun temurun. Kalau memang ada makanan yang sudah dimodifikasi atau makanan modern, maka konsumennya sebagian besar adalah para generasi milenial. 

Sehingga tidak heran bila masakan para totua dan sarara (orang tua dan saudara)  sangat digemari dan menjadi rebutan khusus bagi komunitas alergi makanan siap saji. 

Nasi kuning khas Nunu memang sangat terkenal. Bukan hanya pada pagi hari, malam hari pun penjual nasi kuning bertebaran. masing - masing dengan ciri khas rasa yang berbeda. Di sepanjang jalan utama kampung yang banyak dilalui para pengendara banyak meja - meja jualan tradisonal yang parkir. Selain berisi bungkusan daun nasi kuning, di sana banyak pula aneka rupa kue tradisional buatan kampung asli.

Untuk nasi kuning malam yang paling terkenal adalah nasi kuning Tante Deli. Uniknya nasi kuning ini baru bisa dinikmati menjelang jam 11 atau jam 12 tengah malam. Sehingga para pembelinya adalah mereka yang sering melekan atau begadang. 

Akan tetapi karena sudah suka sekali dengan rasanya yang khas, maka orang rela tidur lebih dahulu baru membeli nasi kuning tante Deli ini. Di tengah malam yang sepi banyak orang yang masih antri di halaman rumahnya.

Semua orang juga pada heran mengapa tante Deli jualan nasi kuning tengah malam. Mengapa tidak membuatnya sejak sore hari sehingga pembeli tidak terlalu lama menunggu.

"Nakuya muni ta Deli ledo noriapu nasalisa. Nangantu kita nopea," ujar seorang pembeli dalam bahsa Kaili yang artinya kenapa Deli tidak masak cepat. Kita sampai mengantuk menunggu. "Eh, vesia mamimo ia, ane lenabongi lenoriapu. Domo ya tongorakamo. Apa kita nompokona anuna danapane, navangi," jawab seorang ibu muda yang juga sudah lama duduk menunggu di teras. Artinya memang sudah begitu adanya, kalau tidak malam tidak memasak dia. Sudahlah tunggu saja. karena kita memang suka nasi kuningnya yang masih panas dan harum.

Begitulah adanya tante Deli,  tidak mampu  lagi mengubah kebiasaannya itu. Sehingga bagi mereka yang memang penggemar berat akan rela menunggu sampai terkantuk - kantuk.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...