Langsung ke konten utama

MERANTAU (26)

 


"Reza kesini, duduk!" kata ayahnya tegas. "Coba jawab yang benar karena Papa lihat kamu makin malas pergi ke sekolah.. Kalau memang sudah tidak mau sekolah, kamu Papa akan sekolahkan di pulau Jawa. Kebetulan ada pamanmu datang kemarin. Dia menanyakanmu jika ingin ikut ke Jawa". Reza diam dan tertunduk.  Ia belum menjawab apa - apa terhadap tawaran ayahnya itu.

Dalam hati Reza mulai berpikir bagaimana kalau ia ikut paman saja ke Jawa Barat. Sekalian saja, karena memang belum pernah ia naik pesawat selama hidupnya. Mungkin di sana lebih enak karena di kota besar. Yah, sepertinya saya akan menjawab yes pada Papa nanti kalau ditanya kembali mengenai hal itu.  Kalau begitu saya akan sampaikan berita baik ini pada Fari dan Rival. Dalam hati Reza mulai semangat.

"Nhaa, apa Reza? tidak salah kau ke Jawa"  Suara Fari agak meninggi setelah mendengar informasi dari Reza. "Yang benar Reza. Bisa kira - kira kau tinggal di pondok pesantren? Situasi beda Reza. Di sana pasti agak ketat dan kita harus disiplin," urai Fari  dengan ucapannya yang agak cadel. "Iya, bisa saya di pesantren. Saya juga pintar mengaji.Kalau ada apa - apa ada paman di sana,"  balas Reza meyakinkan.

"Jadi kapan berangkat Reza," tanya Fari keesokan harinya. "Lusa kami berangkat dengan pesawat," sahut Reza pasti. "Kalau kau mau kita bisa pigi (pergi) sama - sama supaya kita berdua di sana nanti,"  goda Reza pada Fari. Fari nampak terdiam ragu sejenak mendengar ajakan Reza itu. "Boleh juga ya? daripada di Palu begini tidak jelas. Malas sekolah dan di rumah juga tidak tahu mau apa"  batin Fari terus berkata.

Sesampai di rumah, Fari menyanpaikan hal itu pada ibunya. Kaget dan heran ibu Fari mendengarnya. "Bagaimana bisa dalam waktu dua hari ini mama akan siapkan uang tiket Nak. Harga tiket lumayan mahal. Belum lagi biayamu di sana. Mama senang sebenarnya Fari ikut ke pesantren. Hanya biaya yang belum siap karena mendadak seperti ini," Ibu Fari menjelaskan. Terlihat di raut wajah Fari rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan. Ibunya berkata dalam hati "Ya Allah beri aku jalan untuk kebaikan anakku. Ia mau belajar di pesantren"

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan Reza harus berangkat ke Jawa bersama sang paman. Fari ingin sekali turut bersama mereka. Namun, kondisi keuanganlah yang masih jadi kendala saat itu. 'Mama masih usahakan supaya kamu berangkat juga Nak! Sabar saja ya? Fari Insha Allah menyusul Reza ke Jawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIHIL

  Setelah menyorotkan cahaya senter ke sekeliling dalam dan luar warung, Ayah Rival yang sering dipanggil dengan 'Tata' belum menemukan tanda ada orang lain di sekitar itu selain mereka. Lalu, yang didengar Fari tadi apa? Khayalan atau memang sebuah bisikan gaib? Tanda tanya besar untuk semua ini. Dengan harapan apa yang didengar Fari tadi adalah dengkuran Reza, nenek Sadiyah terus memanggil nama Reza. Suaranya memecah keheningan yang menyelimuti saat itu. Di tepi sungai, tengah malam  hingga menjelang Subuh seperti ini, siapa yang mau sebenarnya. Mending tidur di rumah. Kasur empuk dan peluk bantal sambil pakai buya (baca:sarung). Di k ejauhan terdengar ayam jago sudah mulai berkokok tanda Subuh menjelang. Deru sungai makin jelas merekam semua aktivitas mereka sejak beberapa jam yang lalu. Sementara target pencarian masih nihil. "Buuug, byurrr...terdengar dari arah bawah sungai. Suara apa itu? Semua menoleh dan saling memandang tanpa suara dalam keremangan Subuh. Ada yang...

ANAK PERAHU (21)

     "Pakabelo Reza! mosumboli ngena kita, " teriak Fari panik sambil tertawa kecil. " Masya Allah! nadoyo ranga iko Reza," lanjut Rival. "Astagafirullah Reza! hampir mati kita kau bikin," ujar Fari lagi. Reza tersenyum biasa saja melihat reaksi kedua temannya itu. Bagaimana tidak mereka  jadi kacau  tidak karuan seperti itu. Reza berdiri mendadak di tepi perahu kecil itu. Rival dan Fari saat itu sementara konsentrasi mendayung. Kontan saja perahu oleng dan hampir hilang keseimbangan. Untung saja keadaan masih bisa dikendalikan sehingga perahu tidak sampai terbalik. Siang menjelang sore, tiga bocah sahabat itu diam - diam menaiki perahu ayah Reza yang selalu ditambatkan di tepi sungai. Sebenarnya perahu ini hanya digunakan untuk alat transportasi penyebrangan dari sungai barat ke timur dan juga sebaliknya. Siang itu kebetulan saja ayah Reza yang tinggal di  tepi sungai bagian timur punya urusan di daerah barat yang memakan waktu agak lama. Kesempatan itu ...

Anisa

           Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.           Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. "Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?" tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang disembunyikan. Ranti tidak melanjutkan pe...